Kendati valuasi mulai menarik, CGSI belum melihat kondisi tersebut sebagai alasan untuk kembali agresif masuk ke pasar.
Hadi menyebut, pihaknya masih mencermati langkah reformasi signifikan yang dapat dilakukan otoritas sebagai respons terhadap ancaman penurunan klasifikasi Indonesia oleh MSCI.
Inisiatif reformasi tersebut menjadi salah satu indikator penting sebelum CGSI mempertimbangkan kembali peningkatan eksposur di pasar saham Indonesia.
Untuk sementara, CGSI memilih lebih selektif dalam menentukan saham pilihan, dengan memberikan perhatian lebih besar kepada emiten berdividen tinggi dan perusahaan yang memiliki sumber pendapatan dalam dolar AS.
Saham-saham yang menjadi pilihan utama CGSI meliputi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), ASII, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indosat Tbk (ISAT), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Timah Tbk (TINS), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.