FAST juga mencatat beban keuangan yang cukup besar yakni Rp48,64 miliar, naik 8,4 persen. Sementara, rugi bersih perseroan terpangkas 6 persen dari Rp138,75 miliar menjadi tersisa Rp56,74 miliar hingga akhir Juni 2026. Penurunan kerugian tersebut mencerminkan perbaikan pada kinerja operasional FAST.
Perbaikan ini juga tercermin dari arus kas dari aktivitas operasi yang meningkat 160 persen menjadi Rp215,99 miliar. Hal ini didukung oleh penerimaan dari pelanggan yang menembus Rp2,82 triliun.
Perseroan juga lebih konservatif melakukan akuisisi aset pada semester I-2026 dengan belanja aset yang lebih rendah. Namun, ada kenaikan biaya renovasi lebih dari dua kali lipat menjadi Rp125 miliar, menunjukkan fokus FAST dalam memperkuat gerai-gerai yang sudah ada.
Kendati demikian, posisi keuangan FAST cenderung stagnan dalam enam bulan dengan posisi kas dan setara kas sebesar Rp147 miliar. Hal ini akibat masih tingginya angka belanja modal sekaligus optimalisasi modal ketimbang memanfaatkan utang baru.
Hingga 30 Juni 2026, aset FAST meningkat menjadi Rp5,16 triliun, berasal dari liabilitas sebesar Rp4,76 triliun dan ekuitas sekitar Rp408,94 miliar, mencerminkan operasional perseroan yang masih mengandalkan utang.
(Rahmat Fiansyah)