Sementara Ketua Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers mengatakan bahwa pengetatan di pasar telah banyak membantu para pembuat kebijakan. Dia menambahkan komite akan segera bertindak jika tekanan inflasi meningkat.
Dari internal, para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 akan berada antara 4,8 persen sampai 4,9 persen. Proyeksi itu jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya atau kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.
Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.
Sementara itu, angka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada 2026 diproyeksi berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen. Proyeksi pertumbuhan setahun penuh itu juga berada di bawah target pemerintah yang mencapai 5,4 persen.
Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral. Selain itu, pelaku pasar juga bersiap menyambut rilis data domestik penting pekan depan, termasuk data inflasi Juli, data perdagangan Mei, cadangan devisa dan PDB kuartal kedua serta Indek Kepercayaan Konsumen (IKK).