IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Mata uang Garuda turun 38 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.111 per USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen geopilitik meningkat usai Presiden AS Donald Trump mengancam akan membalas Iran dengan lebih keras menyusul serangan rudal Teheran terhadap pangkalan AS di Yordania.
Sementara itu, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman memberlakukan strategi yang sama, yakni mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Houthi tengah berupaya menguasai arus pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang menjadi gerbang ke Laut Merah.
Sentimen lainnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50-3,75 persen.
“Namun, keputusan menahan suku bunga tidak diambil secara bulat tetapi dengan suara terpecah 9 berbanding 3, di mana 3 anggota FOMC memilih menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin. Yang menentang keputusan kebijakan moneter tersebut adalah Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed, yang lebih memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Sementara Ketua Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers mengatakan bahwa pengetatan di pasar telah banyak membantu para pembuat kebijakan. Dia menambahkan komite akan segera bertindak jika tekanan inflasi meningkat.
Dari internal, para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 akan berada antara 4,8 persen sampai 4,9 persen. Proyeksi itu jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya atau kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.
Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.
Sementara itu, angka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada 2026 diproyeksi berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen. Proyeksi pertumbuhan setahun penuh itu juga berada di bawah target pemerintah yang mencapai 5,4 persen.
Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral. Selain itu, pelaku pasar juga bersiap menyambut rilis data domestik penting pekan depan, termasuk data inflasi Juli, data perdagangan Mei, cadangan devisa dan PDB kuartal kedua serta Indek Kepercayaan Konsumen (IKK).
Dari berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah masih rentan fluktuatif namun diproyeksi melemah pada rentang Rp18.110- Rp18.160 per USD.
(NIA DEVIYANA)