sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Konflik Geopolitik Belum Reda, IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak Dunia

Market news editor Nia Deviyana
14/04/2026 18:59 WIB
IEA kini memperkirakan penurunan permintaan sebesar 80 ribu barel per hari (bpd) tahun ini, dibandingkan proyeksi kenaikan 640 ribu bpd dalam laporan Maret.
Konflik Geopolitik Belum Reda, IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak Dunia. Foto: iNews Media Group.
Konflik Geopolitik Belum Reda, IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak Dunia. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengatakan perang Timur Tengah telah mengguncang prospek pasokan dan permintaan global. 

IEA kini memperkirakan penurunan permintaan sebesar 80 ribu barel per hari (bpd) tahun ini, dibandingkan proyeksi kenaikan 640 ribu bpd dalam laporan Maret.

Dalam laporan Maret dilansir Reuters, Selasa (14/42026), IEA menyebut perang di Timur Tengah menjadi gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Namun, EIA saat itu masih memperkirakan adanya pertumbuhan tahunan baik pada pasokan maupun permintaan.

"Penurunan permintaan akan meluas seiring kelangkaan dan harga tinggi yang terus berlanjut," kata IEA, yang juga memberi catatan bahwa penurunan konsumsi minyak terdalam sejauh ini terjadi di Timur Tengah dan Asia-Pasifik, khususnya untuk nafta, LPG, dan bahan bakar jet.

Lembaga tersebut mengatakan penurunan permintaan sebesar 1,5 juta bpd pada kuartal II-2026 akan menjadi kontraksi terdalam sejak pandemi Covid-19.

Sementara itu, Kelompok produsen minyak OPEC menurunkan proyeksi permintaan minyak dunia untuk kuartal II-2026, namun mempertahankan outlook setahun penuh.

Dari sisi pasokan, IEA memperkirakan produksi global turun rata-rata 1,5 juta bpd tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu. Angka ini berbeda dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kenaikan 1,1 juta bpd.

Serangan terhadap infrastruktur energi regional dan penutupan efektif Selat Hormuz menyebabkan hilangnya pasokan 10,1 juta bpd pada Maret, yang disebut sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Arus minyak mentah, bahan bakar olahan, dan cairan gas alam hanya mencapai 3,8 juta bpd pada awal April, turun dari 20 juta bpd pada Februari sebelum AS dan Israel melancarkan serangan awal terhadap Iran.

“Pemulihan aliran melalui Selat Hormuz tetap menjadi faktor paling penting untuk meredakan tekanan pada pasokan energi, harga, dan ekonomi global,” kata IEA.

Skenario dasar IEA memperkirakan pengiriman rutin minyak dan gas dari Timur Tengah ke pasar internasional akan kembali normal pada pertengahan tahun, meski masih di bawah level sebelum konflik. 

Namun, lembaga tersebut juga menyajikan skenario yang lebih parah dengan gangguan pasokan jangka panjang, yang bisa menguras hampir 2 miliar barel stok minyak dan memaksa permintaan turun rata-rata 5 juta bpd secara tahunan dari kuartal II hingga kuartal IV.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement