"Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita yang tidak sepenuhnya benar. APBN kita baik, ekonomi juga masih tumbuh dengan cukup baik. Sampai sekarang kalau kita lihat di berbagai daerah, aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan dan terus meningkat," kata Purbaya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 8,69 persen dalam sepekan ke level 5.594,77. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dibandingkan indeks utama negara-negara ASEAN lainnya.
Sebaliknya, mayoritas bursa saham di kawasan masih mencatatkan penguatan. Indeks saham Filipina (PSEi) memimpin dengan kenaikan 2,94 persen, disusul Thailand 0,91 persen, Malaysia 0,62 persen, dan Singapura 0,24 persen. Sementara itu, Vietnam juga mengalami koreksi, namun hanya sebesar 1,71 persen atau jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia.
Tekanan terhadap IHSG juga terlihat jika dibandingkan dengan bursa utama di kawasan Asia Pasifik. Pelemahan mingguan IHSG melampaui penurunan indeks Korea Selatan (KOSPI) sebesar 3,72 persen, Australia 1,22 persen, Hong Kong 0,88 persen, India 0,73 persen, dan China 1,00 persen.
Sejalan dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar turut mengalami penyusutan signifikan. Nilai kapitalisasi pasar turun dari Rp10.729 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.807 triliun, atau berkurang sekitar Rp922 triliun.