Kedua, BRMS menghadapi kesulitan menjual seluruh produksi emasnya di pasar domestik. Melimpahnya pasokan emas di dalam negeri akibat pergeseran penjualan dari eksportir membuat pembeli meminta diskon harga, sehingga hanya sekitar 70 persen produksi emas BRMS yang berhasil dijual selama kuartal II-2026.
Meski demikian, pada akhir Juni 2026 perseroan telah mengamankan kontrak penjualan dengan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) untuk memasok sebagian besar produksi emasnya setiap bulan hingga Juni 2028 dengan harga yang dinilai kompetitif.
Ketiga, rata-rata harga jual emas BRMS juga turun secara kuartalan menjadi USD4.138 per ons dari USD4.512 per ons pada kuartal I-2026.
Di luar tekanan jangka pendek tersebut, UOB Kay Hian menilai prospek pertumbuhan produksi BRMS tetap kuat. Perseroan tengah meningkatkan kapasitas pabrik carbon-in-leach (CIL) pertama dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari yang ditargetkan selesai pada kuartal IV-2026.
Selain itu, pengembangan tambang bawah tanah Poboya juga berjalan sesuai rencana dan ditargetkan mulai berproduksi pada semester I-2027.