sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Laba Kotor TOBA Naik 2 Kali Lipat di Semester I-2026, Bisnis Non-Batu Bara Mendominasi

Market news editor Tim IDXChannel
31/08/2026 14:48 WIB
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan peningkatan laba kotor pada semester I-2026, yang naik lebih dari dua kali lipat menjadi USD28,2 juta.
Laba Kotor TOBA Naik 2 Kali Lipat di Semester I-2026, Bisnis Non-Batu Bara Mendominasi. (Foto: TBS Energi)
Laba Kotor TOBA Naik 2 Kali Lipat di Semester I-2026, Bisnis Non-Batu Bara Mendominasi. (Foto: TBS Energi)

IDXChannel - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan peningkatan laba kotor pada semester I-2026, yang naik lebih dari dua kali lipat menjadi USD28,2 juta dibandingkan USD13,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, kenaikan laba kotor tersebut terjadi ketika pendapatan konsolidasi relatif stabil di kisaran USD173 juta. Penurunan beban pokok pendapatan turut mendorong margin kotor perseroan meningkat menjadi 16,3 persen dari sebelumnya 8,1 persen.

Peningkatan profitabilitas tersebut juga terjadi seiring perubahan komposisi pendapatan TOBA.

Kontribusi bisnis non-batu bara, terutama pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik, mencapai 66,5 persen dari total pendapatan konsolidasi. Angka tersebut lebih besar dibandingkan kontribusi bisnis batu bara yang sebesar 31,4 persen.

Perubahan komposisi tersebut berbeda dibandingkan periode sebelumnya ketika portofolio TOBA masih didominasi bisnis batu bara.

Dalam corporate presentation TOBA, pergeseran bauran pendapatan telah terlihat sejak kuartal I-2026 dan kembali meningkat pada kuartal II-2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menilai perubahan komposisi pendapatan menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan transformasi bisnis TOBA.

“Yang menarik bukan hanya laba kotornya tumbuh lebih dari dua kali lipat, tetapi sumber pertumbuhannya mulai semakin terdiversifikasi. Ketika bisnis non-batu bara sudah menjadi mayoritas pendapatan dan kontribusinya terus meningkat, pasar mendapatkan indikator yang lebih konkret bahwa transformasi portofolio mulai masuk ke tahap monetisasi,” kata Andhika.

Bisnis pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar dari pertumbuhan bisnis non-batu bara tersebut. Pendapatan segmen ini tumbuh 77,8 persen secara tahunan menjadi USD105,9 juta dari USD59,6 juta.

Laba kotor segmen pengelolaan limbah juga meningkat 91,9 persen menjadi USD17,6 juta, sementara marginnya naik menjadi 16,6 persen dari 15,4 persen.

EBITDA bisnis pengelolaan limbah tercatat lebih dari dua kali lipat menjadi USD23,6 juta. Segmen ini menyumbang sekitar 61,2 persen pendapatan dan 92 persen EBITDA konsolidasi TOBA.

Kinerja tersebut ditopang sejumlah bisnis pengelolaan limbah TOBA di Indonesia dan Singapura.

Cora Environment di Singapura mengelola sekitar 752.000 ton limbah, Asia Medical Enviro Services sekitar 2.100 ton, sementara ARAH Environmental di Indonesia mengelola sekitar 5.800 ton limbah sepanjang periode tersebut.

Menurut Andhika, kontribusi pengelolaan limbah menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena karakter bisnisnya berbeda dibandingkan komoditas.

“Waste management berpotensi memberikan recurring income yang lebih stabil. Jika skala operasi terus bertambah dan utilisasi aset tetap terjaga, segmen ini dapat menjadi salah satu jangkar profitabilitas TOBA ketika kontribusi bisnis berbasis komoditas semakin dikurangi,” ujarnya.

Perkembangan juga terlihat pada ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum. Pendapatan segmen kendaraan listrik melonjak 184 persen secara tahunan menjadi USD9,1 juta.

Laba kotor segmen EV berbalik menjadi positif USD0,4 juta dibandingkan rugi sekitar USD0,5 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA segmen ini turut berubah menjadi positif sekitar USD0,5 juta.

Secara operasional, ekosistem Electrum telah mencakup hampir 14.000 unit sepeda motor listrik dan sekitar 550 Battery Swapping Station.

Aktivitas penukaran baterai telah melampaui 1,7 juta kali per bulan, dengan total jarak tempuh ekosistem lebih dari 135 juta kilometer.

Corporate presentation TOBA juga menunjukkan peningkatan aktivitas pada kuartal II-2026. Pendapatan kendaraan listrik pada periode tersebut mencapai sekitar USD5,86 juta, meningkat 83,1 persen dibandingkan kuartal I-2026.

Perbaikan kinerja juga tercermin pada arus kas operasi TOBA yang berbalik menjadi positif USD14,6 juta pada semester I-2026, dibandingkan negatif USD31,6 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Adjusted EBITDA konsolidasi meningkat 23,7 persen menjadi USD25,7 juta dari USD20,8 juta, sementara rugi bersih menyusut 83,2 persen menjadi USD19,4 juta dari USD115,3 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, bisnis batu bara yang masih berada dalam portofolio TOBA juga mencatat perbaikan margin.

Pendapatan segmen pertambangan batu bara turun 4,1 persen menjadi USD34,9 juta, tetapi laba kotornya meningkat menjadi USD9,3 juta dari USD1,3 juta.

Margin kotor pertambangan meningkat menjadi 26,6 persen dari 3,5 persen, sedangkan EBITDA membaik menjadi positif USD1,3 juta dibandingkan rugi USD11,1 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Andhika menilai kombinasi pertumbuhan bisnis baru dan perbaikan efisiensi bisnis eksisting menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai arah TOBA berikutnya.

“Pasar pada akhirnya akan melihat apakah pertumbuhan waste dan kendaraan listrik dapat terus diterjemahkan menjadi EBITDA dan arus kas yang semakin besar. Semester I-2026 memberikan sinyal awal yang positif karena transformasi tidak hanya terlihat dari perubahan komposisi pendapatan, tetapi mulai tercermin pada margin dan cash flow,” tutur Andhika. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement