Sebagai bagian dari strategi tersebut, Perseroan melakukan revitalisasi teknologi guna mendukung pengembangan di seluruh lini produk, dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar dan tren industri. CINT juga mengalokasikan belanja modal sebesar Rp15 miliar untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta pengembangan produk.
“Kami memandang strategi pengembangan produk yang terdiversifikasi sebagai langkah tepat untuk menjawab dinamika pasar. Kami optimistis strategi ini akan menjadi pendorong utama pertumbuhan sekaligus memperkuat posisi Perseroan di industri furnitur dan kesehatan,” tambah Nurwulan.
Sejalan dengan implementasi strategi tersebut, Perseroan menargetkan penjualan sekitar Rp560 miliar atau tumbuh 8 persen sepanjang tahun 2026, dengan laba bersih diproyeksikan meningkat 5 persen menjadi sekitar Rp35 miliar.
(Shifa Nurhaliza Putri)