MNC Sekuritas mencatat yield UST tenor 10 tahun telah menyentuh 5 persen, sedangkan tenor 20 tahun mencapai 5,40 persen.
Menurut MNC Sekuritas, tingginya tingkat diskonto tersebut membuat instrumen berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor institusi sekaligus memberikan tekanan terhadap valuasi aset berisiko, termasuk saham secara global.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut berpotensi memicu repricing pada selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) terhadap
UST. Dampaknya dapat berupa keluarnya sebagian modal asing dari pasar domestik, meski MNC Sekuritas memperkirakan tekanannya tidak sebesar yang terjadi pada September 2025.
Sektor padat modal dan eksposur terhadap utang berbunga mengambang juga berpotensi menghadapi tekanan lebih tinggi.