Selain itu, ketegangan AS dan Iran yang berpotensi menyeret Rusia serta China turut memicu sikap risk-off di pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, pasar mencermati aturan minimum free float 15 persen yang memunculkan kekhawatiran notasi khusus hingga risiko delisting bagi emiten yang belum memenuhi ketentuan.
Sentimen lain datang dari peringatan S&P Global Ratings mengenai tekanan fiskal, yang memicu kekhawatiran pelebaran defisit serta potensi penurunan rating maupun outlook.
Di saat yang sama, aksi jual investor asing juga tercatat menekan indeks, seperti pada awal perdagangan Jumat (27/2).
Secara teknikal, menurut BRI Danareksa, IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan bias melemah setelah gagal menembus area resistance 8.350-8.440.