Data LSEG menunjukkan pasar uang saat ini hanya memperkirakan peluang rendah perubahan suku bunga oleh The Fed sepanjang 2026.
Sementara, Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam juga mengatakan harga minyak kemungkinan tetap tinggi dan sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah serta perubahan pasokan global.
“Pasar masih memperhitungkan premi risiko geopolitik yang tinggi akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, serta tenggat waktu pembukaan kembali Selat Hormuz yang semakin dekat,” ujar Aslam.
Menurutnya, prospek pasokan yang ketat secara struktural dan pemulihan permintaan global turut menjaga harga minyak tetap kokoh di atas USD100 per barel.
Pada perdagangan terbaru, kontrak minyak WTI bulan terdekat naik 2,7 persen ke USD115,42 per barel, sementara minyak Brent bulan terdekat menguat 1,8 persen ke USD111,69 per barel. (Aldo Fernando)