Menurut UOB Kay Hian, kenaikan yield obligasi global, dengan yield US Treasury 10 tahun berada di atas 5 persen, harga minyak yang tetap tinggi, serta tekanan terhadap rupiah menjadi faktor utama yang menekan pasar.
Penerapan batas harga minimum saham Rp1 per saham dari sebelumnya Rp50 juga menambah risiko price discovery, terutama pada saham berharga rendah dan likuiditas tipis.
Kondisi tersebut turut menekan kinerja pilihan saham UOB Kay Hian.
Portofolio pilihan 10 September 2026 turun 9,5 persen berdasarkan rata-rata sederhana, atau tertinggal 1,6 persen dari IHSG.
Hanya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang mencatat kinerja positif dengan kenaikan 3,2 persen. Sebaliknya, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menjadi penekan terbesar dengan penurunan masing-masing 24,7 persen dan 15,5 persen.
Memasuki Oktober, UOB Kay Hian menilai ruang pemulihan pasar tetap terbuka, tetapi sangat bergantung pada stabilitas makro dan kemampuan emiten membukukan kinerja sesuai ekspektasi.