“Asing masuk menunjukkan adanya demand solid terhadap saham TUGU. Di sisi lain saham TUGU juga menjadi semakin likuid ditransaksikan di market, ini semakin meningkatkan appetite investor terutama asing yang melihat likuiditas perdagangan sebagai salah satu hal penting untuk investability suatu aset," ujar Edo Ardiansyah dalam risetnya Kamis (19/2/2026).
Sebagai informasi, rata-rata nilai perdagangan saham TUGU di sepanjang tahun berjalan 2026 mencapai Rp8,4 miliar per hari. Nilainya melonjak signifikan jika dibandingkan dengan rata-rata perdagangan tahun 2025 yang hanya mencapai Rp3,5 miliar.
Edo Ardiansyah menjelaskan bahwa fenomena ini tidak lepas dari momentum musim rilis laporan keuangan. Memasuki bulan Februari, pasar menantikan rilis laporan keuangan konsolidasi para emiten dan selanjutnya menunggu keputusan penggunaan dari laba yang diperoleh.
“Earnings seasons, untuk case TUGU market bisa menghitung dan estimasi laba konsolidasi full year 2025 dari laporan bulanan parent only maupun segmen reasuransi yang dimiliki. Saya melihat kalau dari laporan bulanan saja, laba bersih konsolidasi bisa tembus ke atas Rp700 miliar,” ujarnya.
Lebih lanjut, TUGU juga terkenal sebagai emiten yang ‘royal’ membagikan dividen dengan yield atraktif. Dalam periode 3 tahun terakhir, rasio laba yang dibagikan menjadi dividen atau dikenal sebagai dividend payout ratio (DPR) mencapai 40 persen.