Perubahan komposisi ini membuat penjualan terhadap klien global ikut berubah. Malaysia yang selama ini menjadi negara tujuan ekspor MARK turun porsinya dari 48 persen menjadi 27 persen. Adapun pasar Indonesia naik dari 4 persen menjadi 12 persen, sementara Thailand stabil di level 24 persen.
MARK juga berhasil menjaga pangsa pasar sarung tangan di kancah global dengan porsi 40 persen. Dengan kapasitas produksi mencapai 18 juta ton per tahun, MARK jauh mengungguli para pesaingnya di peringkat kedua seperti Hao Xiang (China) dan ES Ceramics (Malaysia) yang memiliki kapasitas produksi masing-masing 6 juta ton dan 5 juta ton.
Laba kotor MARK turun 4,5 persen menjadi Rp422 miliar imbas penurunan penjualan. Akan tetapi, margin laba kotor tercatat meningkat dari 49 persen menjadi 50 persen sebagai dampak dari beban pokok penjualan (COGS) yang lebih rendah.
Porsi COGS terhadap penjualan berada di level 20 persen, terendah setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Penurunan ini merupakan dampak dari penggunaan bahan baku yang lebih rendah imbas efisiensi dan kenaikan skala bisnis.
Porsi bahan baku, terutama alumina, mencapai 42 persen dari total COGS MARK. Kemudian 35 persen berasal dari gaji karyawan, 11 persen biaya listrik, air, dan gas, 5 persen untuk suku cadang, dan 7 persen untuk lain-lain.