Mulianto menyebut nikel dan bauksit sebagai contoh mineral strategis yang akan menjadi perhatian perseroan. Sebab kedua jenis mineral ini memiliki peran yang krusial dan saling berbeda untuk melengkapi ekosistem kendaraan listrik.
Nikel berfungsi sebagai bahan baku utama pembuatan kutub positif (katoda) baterai lithium-ion, khususnya untuk jenis baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) atau Nickel Cobalt Aluminium (NCA) untuk. Sementara Bauksit diproses terlebih dahulu menjadi alumina, lalu dilebur menjadi logam aluminium. Di dalam kendaraan listrik, aluminium ini memiliki fungsi yang sangat luas untuk membuat body mobil dan lain sebagainya.
"Kalau kita bicara strategic mineral yang mengarah ke elektrifikasi tentu saja kita akan bicara mengenai nikel, bauksit, hal-hal seperti itu," katanya.
Dia menegaskan, peluang tersebut akan terus menjadi bagian dari perhitungan dan observasi ITMG untuk memastikan perseroan dapat mengembangkan bisnis sekaligus mengambil bagian dalam perkembangan ekosistem energi berbasis elektrifikasi.
"Hal-hal tersebut selalu akan menjadi perhitungan dan observasi kita untuk memastikan ITM bisa berkembang di kemudian hari, dan bisa memastikan kita ikut berpartisipasi dalam proses elektrifikasi untuk energy kedepannya," tutur Mulianto.