Besarnya potensi tekanan terhadap saham-saham bank jumbo tersebut tidak serta-merta mencerminkan memburuknya kinerja perusahaan.
“Saham-saham tersebut menghadapi tekanan jual terbesar karena memiliki bobot paling besar dalam indeks, bukan karena prospek labanya memburuk. Jika dibandingkan dengan volume perdagangan, tekanan jual juga paling berat terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar tersebut,” tulis analis UOB.
Senada, analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin, dalam riset pada 16 Oktober 2026, mencatat empat bank besar menguasai 71,7 persen bobot indeks MSCI Indonesia, yang kini hanya mencakup sembilan saham.
Sementara itu, kepemilikan investor portofolio asing pada saham-saham bank besar, TLKM, ASII, dan UNTR mencapai sekitar 46-53 persen dari free float, jauh di atas rata-rata pasar yang berkisar 20 persen.
Kondisi tersebut membuat saham-saham berkapitalisasi besar berpotensi menjadi sasaran utama penjualan apabila investor global mulai mengurangi eksposur terhadap Indonesia.