sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Merger Manajer Investasi Danantara Jadi Momentum Perkuat Tata Kelola dan Daya Saing Global

Market news editor Yanto Kusdiantono
05/11/2026 16:51 WIB
Langkah Danantara menggabungkan empat manajer investasi (MI) menjadi momentum positif untuk membangun kepercayaan investor.
Merger Manajer Investasi Danantara Jadi Momentum Perkuat Tata Kelola dan Daya Saing Global. Foto: iNews Media Group.
Merger Manajer Investasi Danantara Jadi Momentum Perkuat Tata Kelola dan Daya Saing Global. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel – Langkah Danantara menggabungkan empat manajer investasi (MI) menjadi momentum positif untuk membangun kepercayaan investor. Apalagi investor tidak semata bertumpu pada pencapaian besaran imbal hasil, melainkan juga tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG), transparansi, disiplin pengelolaan risiko, dan akuntabilitas dalam setiap keputusan berinvestasi.

Keempat MI yang dikonsolidasikan melalui PT Danantara Asset Management (DAM) adalah PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BRI Manajemen Investasi (BRIMI), PT BNI Asset Management (BNIAM), dan PT PNM Investment Management (PNMIM). Efektif sejak 1 Oktober 2026, aksi korporasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapabilitas dan daya saing di tingkat regional maupun global.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin, menilai bahwa konsolidasi empat MI tersebut perlu didahului dengan proses uji tuntas (due diligence) mengingat besarnya skala keempat perusahaan investasi yang berada di bawah naungan Danantara.

“Mengapa mergers and acquisitions ini dilakukan? Jelas alasan teknisnya adalah perampingan/efisiensi, perbaikan kualitas manajemen, perbaikan produk investasi, perbaikan layanan, pengurangan kompetisi antarperusahaan investasi pemerintah, dan lain-lain,” ujar Eddy dikutip Kamis (5/4/2026).

Eddy juga menjelaskan bahwa manajemen risiko harus tetap menjadi perhatian utama untuk mengoptimalkan tujuan positif tersebut. Hal itu dinilai tetap menjadi jangkar utama yang dicari oleh para pemodal saat ini dalam menilai keandalan sebuah MI.

Seiring dengan membesarnya dana kelolaan entitas gabungan ini, penguatan sistem pengawasan internal menjadi keharusan agar perusahaan dapat terus berinovasi namun tetap berpijak pada prinsip kehati-hatian. Dari sisi pembentukan postur sumber daya manusia (SDM), Eddy juga mendorong agar kultur organisasi yang baru mampu merawat sikap kritis agar tata kelola terhindar dari bias. 

Jika manajemen risiko hingga SDM terbentuk dengan baik, Eddy meyakini ambisi pemerintah untuk berekspansi ke kancah global sangat mungkin dicapai. “Yang penting talents ciamik dijaga. Kalau hanya memakai orang-orang dekat namun talents bagus Indonesia tidak dipakai ya barangkali tujuan going global itu sulit terealisasi," kata Eddy.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement