Namun, pola tersebut mulai perlahan berubah. Sejumlah negara kini melakukan diversifikasi cadangan, meningkatkan investasi domestik, dan memperketat arus investasi ke luar negeri. Kondisi ini berpotensi mengurangi permintaan marginal terhadap aset AS, termasuk US Treasury.
Di Eropa, misalnya, kebijakan Savings and Investment Union diarahkan untuk menyalurkan tabungan rumah tangga ke perusahaan dan investasi di dalam kawasan. China juga meningkatkan biaya serta pengawasan terhadap investasi di luar negeri.
Sementara di Jepang, kenaikan imbal hasil obligasi domestik membuat aset lokal semakin menarik. Bersamaan dengan itu, terjadi penjualan signifikan atas sejumlah sekuritas asing.
Menurut Arief, kombinasi kebijakan tersebut berpotensi mengarahkan lebih banyak tabungan global ke pasar domestik masing-masing negara. Artinya, ketergantungan terhadap daur ulang surplus ke aset AS dapat berkurang secara bertahap.
Perubahan serupa juga terlihat pada cadangan emas. Meningkatnya ketegangan geopolitik, risiko sanksi, serta kekhawatiran terhadap keamanan cadangan mendorong sejumlah bank sentral memindahkan emas fisik lebih dekat ke wilayahnya sendiri.