IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan depan di level 6.100.
Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee mengatakan, pasar keuangan Indonesia mendapatkan dorongan dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan nilai tukar rupiah, hingga optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
"IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 5,900 sampai level 5,677 dan resistance di level 6,100 sampai level 6,264," ujar Hans saat dihubungi IDX Channel, Minggu (14/6/2026).
Menurut Hans, harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong penguatan bursa saham global. Kondisi tersebut turut menekan harga minyak dunia yang sebelumnya sempat melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Penurunan harga minyak dinilai positif bagi Indonesia karena dapat mengurangi tekanan inflasi, memperbaiki neraca perdagangan, serta mengurangi beban fiskal terkait subsidi energi.
Dari dalam negeri, optimisme pasar juga ditopang oleh revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hans menyoroti keputusan Bank Dunia yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 persen dari sebelumnya 4,7 persen, seiring kuatnya aktivitas ekonomi pada awal tahun.
"Rupiah dan IHSG sama-sama mengaut karena faktor eksternal dan internal. Potensi berakhirnya konflik AS dan Iran di Timur Tengah yang berimbas pada pembukaan selat Hormuz dan turunnya harga minyak menjadi salah satu sentimen," kata Hans.
Sentimen positif lainnya datang dari sektor perbankan yang menjadi salah satu motor penggerak utama penguatan IHSG dalam beberapa waktu terakhir. Investor menilai komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah dan inflasi berpotensi meningkatkan margin industri perbankan.
Langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga di luar jadwal juga dipandang positif oleh pelaku pasar karena memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, investor juga mencermati langkah pemerintah yang berencana menata ulang sejumlah program prioritas guna menjaga ruang fiskal dan memastikan defisit anggaran tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Meski Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperingatkan potensi perlambatan ekonomi dunia pada 2026 akibat tingginya biaya energi, pasar masih mendapatkan dukungan dari ekspektasi bahwa tekanan geopolitik mulai mereda.
Sementara itu, pasar juga terus memantau arah kebijakan bank-bank sentral utama dunia. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat, sedangkan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BOJ) masih membuka peluang melanjutkan siklus pengetatan moneter.
(DESI ANGRIANI)