Meski demikian, KBVS Research menilai dampak negatif tersebut masih dapat diredam oleh sejumlah faktor pendukung.
Di antaranya kontribusi signifikan bisnis alat berat dan pertambangan (HEMCE), kinerja solid segmen kontraktor tambang dan mesin konstruksi, stabilnya bisnis otomotif yang ditopang peluncuran mobil hybrid roda empat, serta kinerja agribisnis dan jasa keuangan yang lebih baik dari perkiraan.
Selain itu, Astra masih berpeluang melanjutkan aksi buyback saham setelah menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai maksimal Rp2 triliun pada periode 19 Januari-25 Februari 2026.
Pemerintah juga dinilai berpeluang membuka kembali operasional Agincourt setelah dampak bencana alam di Sumatera serta dinamika sosial-politik mereda.
Dalam skenario terburuk, KBVS Research memperkirakan nilai wajar ASII bisa turun hingga Rp5.490 per saham.