Meski gangguan pasokan masih berlanjut, harga minyak telah kembali ke level sebelum perang. Tekanan terhadap harga berasal dari turunnya impor China, meningkatnya ekspor dari produsen di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis global dalam jumlah rekor yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA).
Nota kesepahaman untuk mengakhiri perang juga membantu meyakinkan para pelaku pasar bahwa pasokan minyak pada akhirnya akan kembali normal.
Irak Ingin Kuota yang Lebih Tinggi
Harga minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran USD72 per barel pada Jumat, turun dari puncaknya yang sempat melampaui USD120 per barel, dan kembali ke level yang diperdagangkan sebelum Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Selain menyepakati target produksi, OPEC+ juga menghadapi tantangan lain setelah Uni Emirat Arab keluar dari kelompok tersebut dan Irak memberi sinyal menginginkan kuota produksi yang lebih besar.
Tujuh produsen yaitu Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman sedang meningkatkan produksi sebagai bagian dari penghapusan bertahap pemangkasan pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang disepakati pada 2023, ketika UEA masih menjadi anggota kelompok tersebut.