Kondisi tersebut mendorong harga minyak kembali menguat setelah sebelumnya sempat terkoreksi, sehingga memicu kecemasan pasar terhadap prospek inflasi ke depan.
Kekhawatiran tersebut semakin mengemuka setelah inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat mencapai 3,08 persen secara tahunan.
Meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen, pasar menilai risiko inflasi dapat meningkat apabila harga minyak bertahan tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Dengan kondisi tersebut, peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dinilai masih terbuka, terutama jika tekanan inflasi dan depresiasi rupiah berlanjut.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi, kata Phintraco, cenderung menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.