Hilangnya pendapatan membuat COAL tidak lagi mencatat laba bruto yang sebelumnya mencapai Rp19,74 miliar pada kuartal I 2025.
Perseroan pun berbalik membukukan rugi bersih Rp8,29 miliar, dibandingkan laba bersih Rp5,39 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Masalah lain muncul dari sisi likuiditas. Arus kas operasi COAL tercatat negatif Rp13,79 miliar sepanjang kuartal I-2026. Sementara itu, kas dan setara kas perusahaan menyusut menjadi hanya Rp233 juta dari Rp14,29 miliar pada akhir 2025.
Di sisi kewajiban, COAL masih memiliki utang bank jangka pendek sebesar Rp195 miliar. Kondisi ini membuat kemampuan perusahaan menjaga operasional dan memenuhi kewajiban keuangan menjadi perhatian investor.
BEI sebelumnya memasukkan COAL dalam daftar saham dengan notasi khusus S dan X.
Notasi S diberikan karena laporan keuangan terakhir menunjukkan perusahaan tidak memiliki pendapatan usaha berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, sedangkan notasi X menunjukkan saham COAL tercatat di Papan Pemantauan Khusus.