Pendapatan lain-lain juga naik 32,2 persen menjadi USD209,2 juta, antara lain dari bisnis perawatan pesawat (MRO) yang tumbuh 43,8 persen menjadi USD87,4 juta.
GIAA juga masih mencatatkan EBIT positif sebesar USD74,0 juta, naik 12,7 persen yoy dari USD65,7 juta. Angka ini sudah memperhitungkan pendapatan lain-lain dan keuntungan selisih kurs. EBITDA naik 5,8 persen menjadi USD431,6 juta.
Sementara itu, rugi bersih GIAA menyusut 23,2 persen menjadi USD113,0 juta dari USD147,1 juta pada semester I-2025. Meski rugi menyempit, GIAA belum keluar dari zona merah.
Tekanan avtur
Perbaikan kinerja terjadi saat biaya bahan bakar melonjak. Beban avtur GIAA pada semester I-2026 naik 43,6 persen yoy menjadi USD677,6 juta. Porsinya terhadap pendapatan pun naik menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen setahun sebelumnya.
Garuda menyebut tekanan serupa dialami maskapai di seluruh dunia. Konflik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari 2026 mengganggu pasokan energi global. Data International Air Transport Association (IATA) mencatat harga jet fuel global pada puncaknya di April 2026 naik sekitar 121 persen dibandingkan April 2025.