“Apabila di kemudian hari terdapat informasi atau aksi korporasi, perseroan akan menyampaikannya sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.
Hingga kuartal III-2025, SIDO mencatat pendapatan Rp2,7 triliun sepanjang Januari-September 2025, tumbuh 3,9 persen secara tahunan. Laba bersih mencapai Rp818,5 miliar atau naik 5,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Segmen Food & Beverages menjadi salah satu penopang pertumbuhan setelah mencatat kenaikan 4,4 persen akibat pelonggaran biaya bahan baku seperti taurine, aspartame, citric acid, dan fructose. Kinerja ini turut mengimbangi penurunan pada segmen farmasi yang turun 1,8 persen secara tahunan.
Sementara itu, penjualan ekspor meningkat 23 persen hingga September 2025 dan kini berkontribusi 9,7 persen terhadap total pendapatan dengan Malaysia tetap menjadi pasar terbesar dengan kontribusi sekitar 4 persen.
Pada perdagangan Senin (19/1/2026), saham SIDO ditutup menguat 1,85 persen ke level Rp550 per saham. Dalam sebulan terakhir, saham emiten jamu dan farmasi tersebut masih mencatatkan koreksi sebesar 0,90 persen.