Perseroan, kata dia, saat ini fokus memasarkan produk galvalum untuk segmen proyek. Selain itu, perseroan juga merilis produk prepainted galvalum baru alias galvalum yang diwarnai dengan bahan cat yang spesifikasinya lebih tinggi.
"Hal utama dari keduanya adalah masuk ke segmen pasar yang lebih baik di mana spesifikasi produk dan kualitas lebih diutamakan dan tidak sensitif harga," katanya.
Handaja memperkirakan, setelah para importir memenuhi syarat SNI yang baru, penjualan BAJA berpotensi kembali ke level yang normal. Sejumlah faktor yang terus dicermati perseroan juga terkait krisis Teluk, kurs rupiah, hingga realisasi APBN, terutama untuk belanja infrastruktur.
Kenaikan kinerja BAJA membuat harga sahamnya melesat 126 persen dalam sebulan terakhir ke Rp362. Lonjakan saham tersebut membuat BEI menghentikan sementara perdagangan saham BAJA.
Selain kinerja, perseroan juga saat ini tengah menyiapkan rights issue. Di samping itu, sejak 6 Agustus 2026, BEI memasukkan saham BAJA ke dalam kategori High Shareholding Concentrantion (HSC) karena tingkat konsentrasi kepemilikan oleh pemegang saham tertentu mencapai 93,89 persen.
(Rahmat Fiansyah)