Akibatnya, sejak pekan ketiga Maret 2026, perseroan mencatat lonjakan harga film yang menjadi bahan baku utama produksi. Kondisi ini mempersempit ruang efisiensi, terlebih EPAC belum menemukan alternatif bahan baku maupun sumber pasokan dengan harga yang lebih kompetitif.
Sebagai langkah mitigasi, perseroan memutuskan untuk menyesuaikan harga jual produk guna menjaga margin keuntungan di tengah kenaikan biaya produksi.
Meski menghadapi tekanan dari sisi biaya, manajemen menyatakan belum memiliki rencana aksi korporasi dalam 12 bulan ke depan.
"Perseroan saat ini lebih fokus menjaga stabilitas operasional di tengah volatilitas harga energi dan logistik global," tutur manajemen.
Sebagai informasi, harga minyak mentah jenis WTI dan Brent sempat diperdagangkan di atas USD100 per barel, hampir dua kali lipat dibandingkan posisi akhir 2025.