sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Persiapan ‘Tempur’ Tahun Depan, Intip Deretan Saham Prospek Cerah di 2023

Market news editor Melati Kristina - Riset
31/10/2022 08:30 WIB
Sejumlah saham dari berbagai sektor diprediksi tetap bertahan bahkan berpotensi cuan di tengah ancaman resesi global di tahun 2023.
Persiapan ‘Tempur’ Tahun Depan, Intip Deretan Saham Prospek Cerah di 2023. (Foto: MNC Media)
Persiapan ‘Tempur’ Tahun Depan, Intip Deretan Saham Prospek Cerah di 2023. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Dunia tengah dihantui dengan ancaman resesi yang akan terjadi di tahun depan. Kendati demikian, terdapat berbagai sektor hingga saham yang justru diprediksi dapat memberikan potensi cuan di tahun 2023.

Ancaman resesi global diprediksi akan terjadi di tahun 2023. Menteri Keuangan Sri Mulyani, misalnya, menyebutkan, gejolak resesi tersebut berdampak pada proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang terkoreksi.

Adapun International Monetary Fund (IMF) telah memangkas proyeksi ekonomi global menjadi 2,7 persen untuk tahun depan, dari yang sebelumnya 2,9 persen.

Ekonomi global dihantui dengan ancaman resesi, inflasi tinggi, diperparah dengan ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina yang belum kunjung usai.

Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia bertajuk “Equity Market Outlook 2023: Optimism Amidst Uncertainty” yang dirilis pada Kamis (27/10), ketegangan geopolitik di Eropa dapat menyebar ke Asia yang berdampak pada aktivitas logistik, akan tetapi dapat berdampak positif karena adanya pengalihan perdagangan.

“Keduanya mengarah pada perlambatan ekonomi global pada 2023 yang pada akhirnya menyebabkan harga komoditas mersot setelah mengalami lonjakan harga di tahun 2022,” tulis riset Ciptadana.

Di tahun 2022, berbagai komoditas utama seperti minyak sawit hingga batu bara mencapai rekor tertingginya sepanjang masa. Kendati karena permintaan global diprediksi akan lebih lambat, harga komoditas akan kembali normal di tahun depan.

“Kami memperkirakan normalisasi harga akan berlangsung secara bertahap pada tahun 2023 karena perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan,” tulis riset tersebut.

Konflik kedua negara tersebut berimbas bagi harga minyak mentah hingga gandum karena Rusia adalah pengekspor minyak mentah terbesar kedua di dunia Selain itu,kedua negara tersebut juga termasuk produsen gandum dunia terbesar.

Disamping persoalan dari harga komoditas, inflasi juga melonjak secara global karena gangguan pasokan berdampak pada keputusan IMF dalam merevisi inflasi global dari 3,4 persen menjadi 6,8 persen secara year on year (yoy) pada tahun 2022.

Selain itu, IMF juga merevisi pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi menjadi 3,6 persen yoy dari sebelumnya 4,9 persen.

Sektor yang Diprediksi Cuan di 2023

Kendati ekonomi global diprediksi suram di tahun depan, sejumlah sektor masih bisa bertahan di tengah potensi resesi di tahun mendatang.

Adapun Ciptadana memproyeksikan beberapa sektor yang cuan di tahun 2023, yaitu perbankan, telekomunikasi, konsumer, hingga komoditas logam.

Menurut Ciptadana, sektor perbankan dapat memberikan kinerja yang kuat di Tanah Air pasca pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 5 persen di tahun depan.

Di samping itu, suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan net interest margin (NIM) dengan porsi CASA yang tinggi.

Selain perbankan, sektor telekomunikasi atawa telco juga diprediksi akan bertumbuh positif di tahun depan.

“Kami percaya telco akan bertumbuh seiring pemanfaatan infrastruktur teknologi hingga tren digitalisasi yang meningkat kedepannya. Industri ini diharapkan tetap stabil di tahun 2023,” tulis riset Ciptadana.

Selanjutnya yaitu sektor konsumer juga masih mampu bertahan di tahun 2023 di tengah biaya komoditas seperti minyak sawit hingga gula yang diprediksi menurun dengan rata-rata mencapai 29 persen.

Selain ketiga sektor di atas, industri logam juga diprediksi akan bertumbuh di tahun 2023 seiring dengan meningkatnya permintaan komoditas untuk kebutuhan kendaraan listrik (EV).

“Sektor pertambangan akan tumbuh seiring meningkatnya kesempatan investor untuk mengembangkan kendaraan listrik hingga ekosistem baterainya di Indonesia,” tulis Ciptadana.

Pilihan Saham dengan Potensi Cuan di 2023

Selain menyebutkan sektor-sektor yang berpotensi ‘cuan’ di tahun depan, Ciptadana juga menyebutkan saham emiten yang menjadi pilihan utama sekuritas ini.

Di sektor perbankan, Ciptadana memilih PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebagai pilihan utama. Adapun Ciptadana optimis kinerja BBNI akan bertumbuh ditopang dengan strategi perusahaan dalam beralih ke segmen dengan risiko yang lebih rendah.

Adapun segmen tersebut adalah korporasi swasta yang memiliki risiko kredit dan yield lebih rendah dan segmen dengan yieldyang lebh tinggi seperti KUR dan pinjaman payroll.

“Ini akan berkontribusi bagi kinerja perusahaan yang menguntungkan bank di tengah kenaikan suku bunga,” tulis Ciptadana.

Selain itu, BBNI juga memiliki valuasi yang menarik di antara bank-bank bear sedangkan profil dari ROE juga naik ke level normalnya di atas 13 persen di tahun proyeksi 2023.

Selain BBNI, emiten telco PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga diprediksi akan cuan di tahun depan. Setelah mencatatkan pertumbuhan yang ‘mini’ dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan seluler dari Telkomsel (Tsel) diharapkan dapat kembali melesat sepanjang tahun ini.

Adapun Ciptadatna menyebutkan berbagai manuver yang dilakukan Tsel seperti fokus pada peningkatan monetisasi data hingga meningkatkan data berbasis pelanggan melalui konten video hingga layanan tambahan lainnya.

Di samping itu, pembangunan infrastruktur hingga pengembangan data centeryang tengah digarap TLKM juga bisa meningkatkan pertumbuhan TLKM hingga potensi pertambahan nilai perusahaan.

Sementara pilihan Ciptadana di sektor konsumer adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebagai pemimpin pasar produsen mie instan terbesar di Tanah Air.

Kendati ada kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi yang berpotensi membatasi permintaan domestik di tahun 2023, Ciptadana memperkirakan permintaan mie instan tetap bertahan.

“Kami memperkirakan pertumbuhan dari pendapatan mie sebesar 14 persen pada tahun 2023 menjadi Rp52,9 triliun, terutama didorong oleh penjualan dari Pinehill dan lokal,” tulis Ciptadana.

Selain itu, total pendapatan ICBP juga diproyesikan akan tumbuh hingga 11,4 persen menjadi Rp72,2 triliun dengan segmen dari pendapatan mie nstan berkontribusi 73 persen dari total pendapatan perusahaan.

Selain ketiga saham di atas, Ciptadana juga memilih PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebagai emiten pilihan di sektor tambang.

Adapun ANTM memiliki segmen usaha meliputi tambang nikel, emas, dan segmen operasi lainnya. ANTM juga tengah mempercepat pengembangan bisnis hilir nikel seperti EV hingga perusahaan baterai.

Dalam jangka panjang, ANTM juga akan memasok bahan baku ke industri baterai EV melalui smelternya di Halmahera Timur dengan kapasitas sebesar 13.500Tni/tahun yang akan beroperasi di tahun 2023.

Dengan demikian, pengoperasian smelter tersebut bisa menjadi potensi cuan bagi ANTM di tahun 2023 mendatang.

Kinerja Saham BBNI-ICBP Masih Positif

Melansir data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten-emiten pilihan Ciptadana di atas masih mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2022.

Adapun saham BBNI memimpin melesatnya kinerja year to date (YTD) emiten di atas. Berdasarkan data BEI per Jumat (28/10), saham BBNI secara YTD melesat hingga 38,15 persen.

Sedangkan saham lainnya yaitu TLKM dan ICBP juga turut melesat sepanjang tahun 2022. Menurut data BEI pada periode yang sama, sahamnya kedua emiten tersebut masing-masing meningkat hingga 10,15 persen dan 12,64 persen.

Kendati saham emiten-emiten di atas sebagian besar masih mencatatkan pertumbuhan positif, harga saham ANTM justru terkontraksi sepanjang 2022. BEI mencatat, harga saham ANTM merosot hingga minus 18,44 persen secara YTD.

Meski tahun 2023 dihantui oleh ancaman resesi, potensi dari pertumbuhan sektor-sektor di atas dapat memberikan harapan bagi perekonomian Tanah Air di tengah krisis global.

Periset: Melati Kristina

(ADF)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement