Beban pokok penjualan PPRO juga meningkat seiring dengan lonjakan penjualan. Pada pos ini, kenaikannya mencapai 17,1 persen menjadi Rp163,8 miliar.
Dengan begitu, laba kotor PPRO tersisa Rp7,2 miliar dengan margin kotor 4,2 persen. Meski laba naik 200 persen, kinerja operasional perseroan tetap negatif dengan rugi sebelum pajak menembus Rp206,2 miliar.
Tingginya beban usaha tersebut terutama akibat pembayaran beban keuangan Rp72,8 miliar serta beban lain-lain sebesar Rp106,2 miliar. Beban lain-lain yang tinggi tersebut akibat adanya penyesuaian beban administrasi bank yang mencapai Rp110 miliar.
Dengan demikian, PPRO mengalami rugi bersih Rp206,7 miliar, berbalik dari laba pada semester I-2025 yang mencapai Rp47,2 miliar.
Meski secara akuntasi merugi, arus kas PPRO justru meningkat di mana kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp34 miliar dari sebelumnya minus Rp2,6 miliar. Kondisi ini terjadi lantaran penerimaan kas dari pelanggan yang meningkat serta pembayaran kas kepada pemasok yang lebih rendah.