Sejak semester I-2025, perseroan telah mengoperasikan fasilitas produksi baru dengan kapasitas hingga empat kali fasilitas sebelumnya. Kapasitas tersebut menempatkan perseroan dalam posisi yang siap untuk merespons peningkatan permintaan dengan cepat, tanpa membutuhkan penambahan kapasitas produksi yang signifikan.
"Seiring pertumbuhan volume, utilisasi yang lebih tinggi juga diharapkan dapat meningkatkan penyerapan biaya tetap dan operating leverage perseroan," kata manajemen PRDL.
Kemudian pada Januari-September 2026, perseroan membukukan LBITDA sebesar Rp4,3 miliar. Namun, tekanan EBITDA sebagian besar terjadi pada semester pertama, dengan LBITDA Januari-September sebesar Rp4,3 miliar, sementara pada kuartal III-2026 LBITDA menipis menjadi Rp43 juta.
Beban usaha kuartal III-2026 juga ternormalisasi menjadi Rp3,3 miliar, turun 43,0 persen YoY, setelah biaya terkait program Employee Stock Allocation (ESA) telah terealisasi pada semester I-2026.