sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Produsen Mobil China Bayangi Astra, Simak Prospek Saham ASII

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
15/10/2026 10:23 WIB
PT Astra International Tbk (ASII) diperkirakan masih menghadapi tekanan persaingan dari produsen kendaraan asal China.
Produsen Mobil China Bayangi Astra, Simak Prospek Saham ASII. (Foto: Astra)
Produsen Mobil China Bayangi Astra, Simak Prospek Saham ASII. (Foto: Astra)

IDXChannel – PT Astra International Tbk (ASII) diperkirakan masih menghadapi tekanan persaingan dari produsen kendaraan asal China yang berpotensi menghambat pemulihan pangsa pasar otomotif perseroan di Indonesia.

Analis DBS Group Research Elizabelle Pang menilai, produsen kendaraan atau original equipment manufacturer (OEM) asal China berpotensi mempercepat ekspansi ke Asia Tenggara.

Langkah tersebut didorong oleh melemahnya permintaan domestik dan semakin ketatnya pembatasan ekspor ke Uni Eropa.

Astra, yang mendistribusikan sejumlah merek otomotif seperti Toyota dan Daihatsu di Indonesia, berpotensi menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam mempertahankan pangsa pasar.

Meski demikian, investor day Astra pada November 2026 berpotensi memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai tiga bisnis inti perseroan, peta jalan daur ulang modal atau capital recycling, serta target keuangan ke depan.

Pang menilai, komitmen keuangan yang konkret dalam agenda tersebut dapat menjadi kejutan positif bagi investor dan mendorong penilaian ulang saham ASII. Pasalnya, ekspektasi investor saat ini dinilai masih rendah.

DBS mempertahankan rekomendasi beli untuk ASII dengan target harga Rp7.500 per saham.

Di sisi lain, Astra juga tengah mengantongi persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggelar Penawaran Tender Sukarela atau Voluntary Tender Offer (VTO) atas saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).

Sebelumnya, analis UOB Kay Hian Sekuritas Willinoy Sitorus dan Alden Gabriel Lam dalam riset pada 5 Oktober 2026 menilai, sejumlah katalis dapat menopang pergerakan ASII pada periode Juli 2026 hingga Juli 2027.

Katalis tersebut mencakup pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp8 triliun, serta berlanjutnya penundaan insentif kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).

Dari sisi industri, pemulihan pasar kendaraan roda empat diperkirakan berlanjut pada semester II-2026.

Target penjualan mobil nasional tahun ini dipertahankan sebesar 850.000 unit, sementara Astra masih membidik pangsa pasar sekitar 50 persen.

Namun, prospek pemulihan penjualan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap profitabilitas. Margin manufaktur diperkirakan melemah pada paruh kedua 2026, terutama menjelang akhir tahun, akibat tekanan nilai tukar dan biaya bahan baku.

Ruang untuk menaikkan harga jual juga terbatas di tengah persaingan yang ketat.

Sebaliknya, margin bisnis penjualan diperkirakan tetap terjaga berkat perbaikan bauran produk, disiplin pemberian diskon, serta peningkatan kontribusi bisnis purnajual.

Pada segmen jasa keuangan, kenaikan suku bunga diperkirakan hanya memberikan dampak terbatas dalam jangka pendek karena biaya pendanaan menyesuaikan secara bertahap.

Dalam jangka panjang, tekanan tersebut dinilai dapat dikelola melalui optimalisasi pendanaan, penetapan harga berbasis risiko, dan fokus pada profitabilitas dibandingkan ekspansi kredit yang agresif.

Prospek perbaikan juga datang dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (HEMCE).

Beban penurunan nilai bisnis panas bumi telah dibukukan pada semester I-2026, sedangkan produksi emas Martabe diperkirakan kembali normal menuju target setahun penuh sebesar 60.000 ons.

Selain itu, kenaikan kuota produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari 7,5 juta ton menjadi 12,4 juta ton membuka ruang bagi peningkatan kinerja segmen tersebut.

Dengan mempertimbangkan prospek bisnis tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli ASII dengan target harga berbasis metode sum-of-the-parts (SOTP) sebesar Rp7.100 per saham.

Target tersebut mencerminkan valuasi 10,1 kali rasio harga terhadap laba (price to earnings/PE) 2026.

Risiko utama terhadap rekomendasi tersebut meliputi potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut yang dapat meningkatkan biaya pembiayaan, serta pelemahan daya beli masyarakat. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement