BI diperkirakan lebih mengutamakan stabilitas dibandingkan pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan tersebut dinilai memang dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah, tetapi di sisi lain berpotensi membatasi ruang pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan.
Samuel membandingkan kondisi saat ini dengan siklus kenaikan suku bunga pada 2018. Kala itu, BI juga menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah dan meredam arus keluar modal asing.
Hasilnya, IHSG cenderung bergerak mendatar selama periode kenaikan suku bunga berlangsung, sementara investor asing tetap melakukan aksi jual meski dalam laju yang lebih lambat.
Samuel menilai, akar persoalan bukan terletak pada kenaikan suku bunga itu sendiri, melainkan sinyal bahwa BI kini lebih mengutamakan stabilitas dibanding pertumbuhan ekonomi.
Strategi tersebut memang dapat membantu menopang rupiah, tetapi sekaligus mengurangi daya tarik Indonesia sebagai pasar negara berkembang yang selama ini mengandalkan prospek pertumbuhan.