IDXChannel – Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam sekitar 35 persen dari puncaknya sepanjang semester I-2026, pasar domestik diperkirakan masih menghadapi tantangan berat pada paruh kedua tahun ini.
Meski valuasi saham telah berada di level yang sangat murah, tekanan dari kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, hingga ketidakpastian arah kebijakan pemerintah dinilai belum sepenuhnya mereda.
Dalam laporan outlook semester II-2026 bertajuk The Best Offense is Defense, Samuel Sekuritas menilai strategi investasi defensif masih menjadi pilihan paling rasional karena belum terlihat katalis yang cukup kuat untuk mendorong pemulihan pasar saham secara berkelanjutan.
Menurut Samuel, tantangan terbesar saat ini datang dari perubahan sikap Bank Indonesia (BI) yang telah memasuki siklus kenaikan suku bunga.
Berbeda dengan periode sebelumnya yang bertujuan mengendalikan inflasi, kali ini kenaikan suku bunga lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan.
BI diperkirakan lebih mengutamakan stabilitas dibandingkan pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan tersebut dinilai memang dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah, tetapi di sisi lain berpotensi membatasi ruang pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan.
Samuel membandingkan kondisi saat ini dengan siklus kenaikan suku bunga pada 2018. Kala itu, BI juga menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah dan meredam arus keluar modal asing.
Hasilnya, IHSG cenderung bergerak mendatar selama periode kenaikan suku bunga berlangsung, sementara investor asing tetap melakukan aksi jual meski dalam laju yang lebih lambat.
Samuel menilai, akar persoalan bukan terletak pada kenaikan suku bunga itu sendiri, melainkan sinyal bahwa BI kini lebih mengutamakan stabilitas dibanding pertumbuhan ekonomi.
Strategi tersebut memang dapat membantu menopang rupiah, tetapi sekaligus mengurangi daya tarik Indonesia sebagai pasar negara berkembang yang selama ini mengandalkan prospek pertumbuhan.
Kondisi itu dinilai menjadi salah satu alasan investor asing terus mengurangi eksposurnya di pasar saham domestik.
Selain tekanan dari sisi moneter, Samuel juga menilai persepsi investor terhadap kebijakan pemerintah menjadi faktor yang ikut membebani pasar.
Menurut mereka, berbagai kebijakan yang diluncurkan dalam beberapa bulan terakhir dinilai meningkatkan policy risk premium, sehingga investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menempatkan dana di Indonesia.
Beberapa faktor yang menjadi sorotan antara lain meningkatnya kekhawatiran terhadap disiplin fiskal, perubahan desain sejumlah program pemerintah, sentralisasi modal dan ekspor sumber daya alam (SDA), pembentukan Danantara beserta kewenangannya, hingga berbagai perubahan kebijakan yang dinilai berlangsung cukup cepat sebelum memiliki kepastian implementasi.
Kondisi tersebut dinilai menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor.
Di sisi lain, Samuel menilai pelemahan rupiah bukan sekadar fenomena jangka pendek.
Tekanan terhadap mata uang Garuda diperkirakan bersifat struktural karena selisih pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) semakin menyempit, demikian pula selisih imbal hasil obligasi kedua negara.
“Dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang secara struktural relatif rendah serta lingkungan suku bunga riil yang rendah, kami meyakini rupiah masih akan menghadapi tekanan depresiasi dalam jangka panjang,” tulis Samuel.
Meski demikian, Samuel melihat satu sisi positif, yakni valuasi pasar saham Indonesia yang kini sudah berada di level sangat rendah.
Rasio price to earnings (P/E) IHSG berada di kisaran 13,6 kali atau sekitar 27 persen lebih murah dibandingkan rata-rata pasar negara berkembang (MSCI Emerging Markets) serta sekitar 34 persen di bawah rata-rata historis 10 tahun.
Namun, murahnya valuasi dinilai belum cukup menjadi alasan untuk agresif membeli saham.
“Pasar saat ini diperdagangkan pada valuasi setara periode krisis. Meski demikian, kami belum melihat adanya katalis yang jelas untuk menopang harga saham yang terus melemah,” tulis Samuel.
Sementara, kata Samuel, investor asing terus melakukan aksi jual, termasuk pada saham-saham perbankan besar yang selama ini menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia.
Terkait isu MSCI, Samuel menilai dampak negatifnya sebagian besar telah tercermin dalam harga saham.
Meskipun Indonesia masih menghadapi persoalan transparansi kepemilikan saham dan free float, peluang Indonesia diturunkan dari status emerging market menjadi frontier market dinilai relatif kecil.
“Isu MSCI tampaknya sebagian besar telah diperhitungkan oleh pasar (priced in). Kami juga melihat probabilitas Indonesia diturunkan ke status Frontier Market relatif rendah,” kata Samuel.
Fokus investor kini tertuju pada evaluasi MSCI berikutnya pada November mendatang.
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Samuel merekomendasikan investor menerapkan strategi yang lebih defensif pada semester II-2026.
Porsi saham diturunkan dari 20 persen menjadi 15 persen atau underweight, sementara obligasi dan emas masing-masing dinaikkan menjadi 40 persen dan 10 persen.
Samuel juga mempertahankan alokasi kas sebesar 30 persen, terutama dalam bentuk deposito dolar AS, sebagai strategi menghadapi tingginya ketidakpastian pasar. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.