IDXChannel - Penundaan pemberian insentif kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) berpotensi menjadi angin segar bagi penjualan mobil konvensional PT Astra International Tbk (ASII) dalam jangka pendek.
Namun, kenaikan suku bunga dan pelemahan daya beli masih menjadi risiko yang perlu dicermati.
Dalam riset yang diterbitkan 2 Juli 2026, analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus dan Alden Gabriel Lam, menyebut pemerintah kembali menunda penerapan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk kendaraan listrik hingga Agustus 2026 dari rencana sebelumnya pada Juli 2026.
Kebijakan tersebut masih dalam tahap kajian dan membutuhkan perhitungan lebih lanjut oleh Kementerian Keuangan.
Skema insentif yang tengah disiapkan pemerintah mencakup 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit motor listrik.
Untuk kendaraan roda dua, pemerintah berencana memberikan insentif Rp5 juta per unit.
Sementara untuk mobil listrik, sebagian model akan memperoleh fasilitas PPN ditanggung pemerintah sebesar 100 persen, sedangkan model lain mendapatkan insentif 40 persen tergantung basis bahan baku baterainya.
Menurut UOB Kay Hian, penundaan insentif BEV dapat mengurangi tekanan terhadap kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE), termasuk produk yang menjadi sumber utama penjualan Astra.
Selain faktor insentif kendaraan listrik, momentum pameran otomotif juga diperkirakan menopang pasar kendaraan roda empat.
Ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Jakarta akan berlangsung pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026, dilanjutkan GIIAS Surabaya pada 26-30 Agustus dan GIIAS Bandung pada 9-13 September 2026.
UOB Kay Hian mencatat GIIAS Jakarta tahun lalu mampu mencetak penjualan sekitar 38.000 unit hanya dalam 10 hari, setara 4,7 persen dari total penjualan mobil nasional sepanjang 2025.
Dengan pertumbuhan penjualan mobil roda empat sebesar 13,1 persen secara tahunan pada lima bulan pertama 2026, momentum GIIAS di paruh kedua tahun ini dinilai dapat mendukung target pertumbuhan penjualan mobil nasional sebesar 5,5 persen.
Namun, analis memperkirakan kontribusi Daihatsu Gran Max terhadap penjualan Astra berpotensi melandai setelah mencatat lonjakan signifikan pada awal tahun.
Kontribusi Gran Max terhadap total penjualan mobil Astra meningkat menjadi 11,9 persen pada Januari-Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan kisaran 7,5-8,7 persen pada periode 2021-2024.
Kenaikan tersebut sejalan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Namun, pemerintah kemudian memangkas anggaran MBG dari Rp335 triliun menjadi Rp228,3 triliun, sementara rencana pembentukan Koperasi Desa Merah Putih direvisi dari 80.000 unit menjadi 40.000 unit.
Kondisi tersebut dapat membuat pertumbuhan penjualan Gran Max kembali normal setelah mencatat kontribusi kuat pada awal 2026.
Dari sisi biaya operasional, kenaikan harga bahan bakar minyak juga menjadi perhatian.
Harga Pertamax naik 32,1 persen menjadi Rp16.250 per liter pada Juni 2026 akibat tekanan harga minyak global setelah perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Meski demikian, dampaknya terhadap Astra dinilai terbatas karena Pertalite masih mendapatkan subsidi dengan harga Rp10.000 per liter.
UOB memperkirakan sekitar 80 persen konsumsi bahan bakar nasional masih berasal dari BBM bersubsidi. Selain itu, sekitar 44 persen penjualan Astra pada lima bulan pertama 2026 berasal dari model kendaraan yang dapat menggunakan BBM bersubsidi.
Tren peningkatan kendaraan hybrid juga menjadi penopang, dengan kontribusi mobil hybrid mencapai 11 persen dari penjualan Astra periode tersebut.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga menjadi risiko utama terhadap permintaan kendaraan baru. Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen, yang berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan kendaraan.
Dampak terbesar diperkirakan terjadi pada segmen low-cost green car (LCGC), yang menyumbang 19,3 persen penjualan Astra pada lima bulan pertama 2026. Biaya kredit yang lebih tinggi dapat menekan minat konsumen untuk membeli kendaraan baru, khususnya di segmen sensitif terhadap pembiayaan.
Dalam strategi korporasi, Astra juga mulai menyelaraskan manajemen dengan kerangka total shareholder return (TSR).
Perseroan berencana mengalokasikan hingga 100 juta saham treasuri untuk program manajemen saham opsi (MSOP), setara sekitar 0,5 persen dari saham beredar publik atau senilai sekitar Rp470 miliar dengan asumsi harga saham Rp4.700 per unit.
Selain itu, Astra akan meminta persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 10 Juli 2026 untuk program pembelian kembali saham (buyback) hingga Rp8 triliun.
Program tersebut akan berlangsung pada 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027. Dengan asumsi harga saham Rp4.600 per unit, nilai buyback tersebut setara sekitar 4,3 persen dari saham beredar publik.
UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham ASII dengan target harga berbasis sum-of-the-parts (SOTP) sebesar Rp7.100.
Menurut analis, pameran GIIAS, program buyback saham, serta penundaan insentif BEV menjadi katalis positif jangka pendek.
Meski demikian, risiko kenaikan suku bunga lanjutan dan pelemahan daya beli masih membayangi prospek industri otomotif.
Potensi kenaikan valuasi Astra akan bergantung pada keberhasilan transformasi strategis perusahaan, termasuk efisiensi portofolio bisnis dan kemampuan menciptakan imbal hasil berkelanjutan bagi pemegang saham. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.