IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih dibayangi tekanan pelemahan sepanjang perdagangan November 2026. Menguatnya indeks dolar AS serta tingginya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan mata uang Garuda.
Analis mata uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan indeks dolar AS bergerak di kisaran 101,20 hingga 103,20 pada periode perdagangan 9-13 November 2026.
“Rupiah kemungkinan besar fluktuasinya itu akan menuju di level Rp18.250 per USD,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).
Ibrahim menjelaskan dinamika nilai tukar berpotensi berlanjut melemah hingga menyentuh level psikologis Rp18.500 per USD pada November ini.
Level Rp18.500 tersebut menjadi titik kritis (key level) bagi arah pergerakan rupiah berikutnya, di mana jika tertembus, rupiah berisiko melemah lebih jauh menuju Rp19.000 per USD.
“Kalau seandainya tidak kena di Rp18.500 kemungkinan besar akan kembali tidak akan mencapai di level Rp19.000 dalam penutupan pasar di akhir tahun ini,” kata dia.
Ibrahim menekankan negosiasi diplomatik antara Iran dan AS yang dimediasi Qatar belum memberikan jaminan kesepakatan konkret, menyusul kebuntuan pada pembahasan program uranium Iran. Ketegangan kawasan kian memanas pasca-aksi militer AS terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
“Artinya, ketegangan sebenarnya di Timur Tengah itu masih terjadi,” ujarnya.