sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Diprediksi Menguat Besok, Terdongkrak Sentimen Fiskal dan Imbal Hasil AS

Market news editor Rohman Wibowo
20/08/2026 22:00 WIB
Rupiah berpotensi melanjutkan penguatan dipengaruhi sentimen penurunan imbal hasil obligasi AS, disiplin anggaran domestik, serta indikator transaksi berjalan.
Rupiah Diprediksi Menguat Besok, Terdongkrak Sentimen Fiskal dan Imbal Hasil AS. (Foto: iNews Media Group)
Rupiah Diprediksi Menguat Besok, Terdongkrak Sentimen Fiskal dan Imbal Hasil AS. (Foto: iNews Media Group)

"Secara sentimen eksternal, selain tensi geopolitik di Timur Tengah terkait blokade Selat Hormuz, pasar merespons Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program pembelian kembali (buyback) sekuritas jangka panjang untuk mengendalikan biaya pinjaman. Hal ini membuat imbal hasil Treasury AS tenor 10-tahun turun lebih dari 5 bps dan tenor 30-tahun turun hampir 9 bps guna mendukung likuiditas," ujar Ibrahim

Di saat bersamaan, risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) edisi Juli memperlihatkan sebagian pembuat kebijakan masih membuka opsi kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak melandai. Pada pertemuan bulan lalu, The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan (Federal Funds Rate) pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen, meski sejumlah anggota menginginkan langkah cepat demi mengembalikan inflasi ke target sasaran.

Dari dalam negeri, pasar menyambut positif rencana pemerintah yang akan memangkas kuota BBM bersubsidi hingga 58,5 persen pada 2027, terutama untuk jenis Pertalite, sebagai bagian dari efisiensi belanja negara. Namun, pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar USD75 per barel pada 2027, berada di bawah harga minyak saat ini yang bertengger di kisaran USD83 per barel dengan posisi kurs rupiah saat ini di angka Rp17.500 per dolar AS.

Rencana pengetatan kuota energi tersebut dipandang sebagai katalis positif yang dapat memperkuat postur APBN serta menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah. Kendati demikian, Ibrahim mengingatkan otoritas agar memperhitungkan dampak penyesuaian subsidi terhadap mobilitas dan daya beli masyarakat luas.

"Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat sehari-hari, terlebih pengguna Pertalite didominasi kendaraan harian. Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran jika masyarakat beralih ke nonsubsidi, sehingga kebijakan ini harus mempertimbangkan daya beli kelompok menengah bawah," jelas Ibrahim.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement