Data PPI AS pada bulan Agustus naik 0,4 persen secara bulanan (MoM), sesuai dengan ekspektasi pasar dan meningkat dari kenaikan 0,1 persen yang tercatat pada Juli. Inflasi produsen tahunan naik menjadi 5,4 persen, sedikit di atas perkiraan 5,3 persen dan meningkat dari angka sebelumnya sebesar 4,8 persen.
Secara tahunan, inflasi produsen inti naik menjadi 4,6 persen dari 4,3 persen, sesuai dengan ekspektasi. Angka-angka tersebut menjaga kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka lebar.
Hari ini fokus pasar akan tertuju pada Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang akan dirilis malam ini pukul 19.30 WIB. IHK bulan Agustus diperkirakan naik dari 0,1 persen menjadi 0,4 persen secara bulanan (MoM), sementara angka tahunan (YoY) untuk periode 12 bulan terakhir diprediksi tetap stabil di level 3,4 persen. IHK Inti diperkirakan bertahan di angka 0,2 persen secara bulanan dan turun dari 2,5 persen menjadi 2,4 persen secara tahunan.
Dari sentimen dalam negeri, harga minyak mentah dunia melampaui USD100 per barel, posisi Indonesia sebagai importir neto minyak memang menjadi tantangan berat bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional. Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat.
Kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi Makro APBN (ICP/Indonesian Crude Price) secara otomatis menaikkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi BBM (seperti pertalite dan solar serta LPG 3 Kg) sehingga akan terjadi risiko defisit, apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran.