Tekanan terhadap mata uang kawasan bertepatan dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,11 persen ke posisi 100,001 pada pukul 09.00 WIB. Rebound ini membawa DXY kembali bergerak di atas level psikologis 100 setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi terendah dalam satu setengah bulan terakhir.
Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, saat ini pasar fokus terhadap prospek The Fed dan data ketenagakerjaan AS, meskipun mencatat kenaikan pada hari Senin, para investor tetap bersikap hati-hati setelah tiga pejabat Federal Reserve yang sebelumnya menyatakan perbedaan pendapat dalam rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada Jumat bahwa inflasi masih terlalu tinggi.
"Mereka berpendapat bahwa kenaikan suku bunga segera diperlukan demi menjaga kredibilitas bank sentral dalam upaya pengendalian inflasi," kata Ibrahim dalam risetnya.
Dari sentimen dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya.
Namun, pemulihan sektor industri dinilai masih berlangsung secara bertahap karena kenaikan biaya bahan baku, pelemahan permintaan ekspor, dan kehati-hatian pelaku usaha dalam membeli bahan baku masih membatasi laju pertumbuhan.
Dengan demikian, Ibrahim memprediksikan perdagangan rupiah hari ini berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.990-Rp18.040 per USD.
(Dhera Arizona)