"Secara internal, ada sentimen berlanjut dari perkembangan pertumbuhan PDB tahunan kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year), angka ini sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal pertama namun tetap melampaui proyeksi, sehingga menjadikan pertumbuhan semester pertama sebesar 5,45 persen," ujar Ibrahim dalam analisisnya.
Selain faktor domestik, perhatian investor juga tertuju pada agenda peninjauan lembaga indeks internasional seperti MSCI dan FTSE Russell yang memegang kendali atas dana pasif bernilai jumbo. Besarnya aset kelolaan (passive assets under management) membuat kebijakan lembaga tersebut krusial bagi pergerakan modal di pasar keuangan.
"Besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global juga tercermin dari dana pasif yang mereka Kelola, aset kelolaan (passive assets under management/AUM) indeks MSCI mencapai sekitar USD5 miliar atau setara Rp89,98 triliun dengan asumsi kurs Rp17.995 per USD. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang memiliki passive AUM sekitar USD1,5 miliar-USD2 miliar atau setara Rp26,99 triliun-Rp35,99 triliun," tambahnya.
Sementara itu dari ranah eksternal, ketegangan jalur distribusi energi dunia mulai mereda setelah tercapainya kesepakatan awal terkait koordinat pelayaran penting di Timur Tengah. Meski demikian, para pelaku pasar tetap mewaspadai kelanjutan detail teknis dan biaya logistik di kawasan tersebut.
Secara sentimen eksternal, kata dia, sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koordinat usulan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sebuah jalur air vital yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan LNG global.