IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Pelemahan mata uang garuda ini dibayangi lonjakan inflasi di Negeri Paman Sam serta kekhawatiran atas melebarnya defisit transaksi berjalan domestik.
Di saat yang sama, sentimen internal turut terbebani oleh proyeksi kenaikan inflasi dan pelebaran defisit neraca eksternal meski prospek pertumbuhan ekonomi nasional dinilai masih solid.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per USD. Tekanan ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap rilis data inflasi AS serta bayang-bayang pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, dikutip Kamis (15/10/2026).
Dinamika pasar global kian kompleks seiring laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyoroti dua kekuatan transformatif utama pembentuk ekonomi dunia, yakni eskalasi geopolitik dan disrupsi teknologi.
Lembaga tersebut menilai paparan dampak di setiap negara berbeda-beda tergantung pada kedekatan wilayah dengan episentrum konflik, sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas mentah, hingga kemampuan memanfaatkan ledakan adopsi kecerdasan buatan.