Kesenjangan antara target ambisius pemerintah dan estimasi lembaga multilateral mencerminkan tingginya kehati-hatian investor dalam menakar ketahanan eksternal tanah air. Kebutuhan valuta asing untuk menutup defisit transaksi berjalan pada akhirnya menjadi beban riil yang membatasi ruang apresiasi nilai tukar di pasar spot.
"Target pertumbuhan pemerintah di atas 5,5 persen pada paruh kedua memang memberi harapan, tetapi pasar tetap mencermati risiko pelebaran defisit neraca eksternal yang melampaui estimasi Bank Indonesia. Kombinasi ketidakpastian moneter The Fed dan lonjakan kebutuhan devisa impor inilah yang menahan laju mata uang garuda sehingga terperosok ke zona merah," ujar Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)