sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah pada Rentang Rp17.900-Rp17.950 per USD, Ini Sentimennya

Market news editor Rohman Wibowo
15/10/2026 07:30 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026).
Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah pada Rentang Rp17.900-Rp17.950 per USD, Ini Sentimennya. Foto: iNews Media Group.
Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah pada Rentang Rp17.900-Rp17.950 per USD, Ini Sentimennya. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Pelemahan mata uang garuda ini dibayangi lonjakan inflasi di Negeri Paman Sam serta kekhawatiran atas melebarnya defisit transaksi berjalan domestik.

Di saat yang sama, sentimen internal turut terbebani oleh proyeksi kenaikan inflasi dan pelebaran defisit neraca eksternal meski prospek pertumbuhan ekonomi nasional dinilai masih solid.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per USD. Tekanan ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap rilis data inflasi AS serta bayang-bayang pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, dikutip Kamis (15/10/2026).

Dinamika pasar global kian kompleks seiring laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyoroti dua kekuatan transformatif utama pembentuk ekonomi dunia, yakni eskalasi geopolitik dan disrupsi teknologi. 

Lembaga tersebut menilai paparan dampak di setiap negara berbeda-beda tergantung pada kedekatan wilayah dengan episentrum konflik, sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas mentah, hingga kemampuan memanfaatkan ledakan adopsi kecerdasan buatan.

Di tengah ketidakpastian global tersebut, IMF mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dari estimasi Juli sebesar 5,0 persen menjadi 5,1 persen dalam laporan edisi Oktober. Namun, revisi kenaikan tersebut diimbangi oleh peringatan mengenai laju inflasi domestik yang berpotensi terkerek hingga menyentuh 3,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

"Meskipun IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2027 di angka 5,1 persen, kenaikan inflasi domestik ke 3,3 persen berisiko menahan daya beli masyarakat. Sentimen negatif bagi rupiah kian nyata karena defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar hingga 1,6 persen terhadap PDB pada tahun ini," kata Ibrahim.

Prospek defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sebesar 1,6 persen PDB tersebut melonjak tajam dibanding realisasi 2025 yang hanya 0,1 persen PDB, sebelum diprakirakan baru ternormalisasi ke posisi 1 persen PDB pada 2027. 

Perkiraan defisit versi IMF ini bahkan melampaui proyeksi Bank Indonesia (BI) yang mematok kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap PDB.

Di sisi lain, pemerintah mempertahankan target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sepanjang 2026, yakni sebesar 5,4 persen. Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan di atas 5,5 persen pada kuartal III dan IV masih dapat direalisasikan, didukung capaian semester I/2026 yang menembus 5,45 persen sebagai torehan tertinggi beberapa tahun belakangan usai ekspansi 5,61 persen pada kuartal I/2026.

Kesenjangan antara target ambisius pemerintah dan estimasi lembaga multilateral mencerminkan tingginya kehati-hatian investor dalam menakar ketahanan eksternal tanah air. Kebutuhan valuta asing untuk menutup defisit transaksi berjalan pada akhirnya menjadi beban riil yang membatasi ruang apresiasi nilai tukar di pasar spot.

"Target pertumbuhan pemerintah di atas 5,5 persen pada paruh kedua memang memberi harapan, tetapi pasar tetap mencermati risiko pelebaran defisit neraca eksternal yang melampaui estimasi Bank Indonesia. Kombinasi ketidakpastian moneter The Fed dan lonjakan kebutuhan devisa impor inilah yang menahan laju mata uang garuda sehingga terperosok ke zona merah," ujar Ibrahim.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement