sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Level Rp17.394 per USD

Market news editor Anggie Ariesta
04/05/2026 15:46 WIB
Sentimen global, terutama geopolitik masih memberikan tekanan terhadap mata uang.
Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Level Rp17.394 per USD. Foto: iNews Media Group.
Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Level Rp17.394 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada Senin (4/5/2026). Rupiah turun 57 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.394 per USD. Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai sentimen global, terutama geopolitik masih memberikan tekanan terhadap mata uang.

“Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya akan memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk.

Di Eropa timur, Ukraina melancarkan serangkaian serangan drone terhadap target di seluruh Rusia pada Minggu, menghantam pelabuhan Primorsk di Laut Baltik dan membakarnya, serta menyerang sejumlah kapal, seiring dengan peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi dan target lainnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan serangan tersebut telah menyebabkan kerusakan signifikan pada pelabuhan terminal minyak. Serangan itu juga mengenai sebuah kapal tanker minyak, sebuah kapal rudal kecil kelas Karakurt Rusia, dan sebuah kapal patroli di Laut Baltik, katanya di Telegram.

Dari internal, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 surplus USD3,32 miliar, dibanding catatan pada Februari 2026 yang senilai USD1,27 miliar.

Kondisi surplus itu disebabkan nilai ekspor sebesar USD22,53 miliar, sedangkan impor USD19,21 miliar. 

Sebagai catatan ini adalah surplus dalam 71 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Surplus Maret 2026 ditopang komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD5,21 miliar. Komoditi penyumbang terutama minyak dan lemak hewan nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja. Komoditas migas defisit USD1,89 miliar dengan komoditas penyumbang defisit minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Sehingga, neraca perdagangan kumulatif pada Januari-Maret 2026 mencapai surplus USD5,55 miliar. Surplus Januari-Maret ditopang oleh komoditas nonmigas USD10,63 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit USD5,08 miliar.

Kemudian, aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus dampak perang hingga mengalami kontraksi.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.

PMI mengalami kontraksi karena terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 karena sejumlah faktor. Kontraksi ini didorong oleh penurunan berkelanjutan dalam volume produksi. Penurunan tersebut terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin  cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.
 
Berdasarkan sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diproyeksi ditutup melemah pada rentang  Rp17.390- Rp17.440 per USD.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement