Kondisi surplus itu disebabkan nilai ekspor sebesar USD22,53 miliar, sedangkan impor USD19,21 miliar.
Sebagai catatan ini adalah surplus dalam 71 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Surplus Maret 2026 ditopang komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD5,21 miliar. Komoditi penyumbang terutama minyak dan lemak hewan nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja. Komoditas migas defisit USD1,89 miliar dengan komoditas penyumbang defisit minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
Sehingga, neraca perdagangan kumulatif pada Januari-Maret 2026 mencapai surplus USD5,55 miliar. Surplus Januari-Maret ditopang oleh komoditas nonmigas USD10,63 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit USD5,08 miliar.
Kemudian, aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus dampak perang hingga mengalami kontraksi.
Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.
PMI mengalami kontraksi karena terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 karena sejumlah faktor. Kontraksi ini didorong oleh penurunan berkelanjutan dalam volume produksi. Penurunan tersebut terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.
Berdasarkan sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diproyeksi ditutup melemah pada rentang Rp17.390- Rp17.440 per USD.
(NIA DEVIYANA)