Perhatian sekarang beralih ke laporan pasar tenaga kerja AS bulan Juni, dengan rilis Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Kamis. Para ekonom memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114.000 lapangan kerja sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen, data yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed.
Dari dalam negeri, pasar menunggu data neraca perdagangan Mei, di mana sebelumnya pada April defisit transaksi berjalan dan anggaran tercatat melebar. Surplus perdagangan yang menyusut, dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif sampai April hanya USD5,64 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih berada di atas USD10 miliar. Penyusutan surplus perdagangan tersebut akan berdampak langsung pada pelebaran defisit transaksi berjalan. Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar USD4 miliar.
Inflasi pada Mei juga mendekati batas atas target Bank Indonesia yang dipimpin oleh kenaikan harga pangan. secara agregat nasional stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali. Namun, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatera yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lain.
Ketimpangan inflasi dipicu oleh beberapa faktor, seperti rantai tata niaga pangan domestik yang belum efisien, fluktuasi cuaca setempat, serta pola tanam antar-daerah yang belum terkoordinasi. Kondisi tersebut diperparah oleh ancaman eksternal. Kenaikan biaya logistik perkapalan global dan inflasi barang impor juga memengaruhi persoalan ini.