Dengan subsidi yang lebih besar, pemerintah berupaya menahan kenaikan harga BBM, listrik, dan energi lainnya agar tidak langsung membebani masyarakat. Kebijakan ini penting di tengah kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya impor energi.
Oleh karena itu, tambahan subsidi berpotensi menjaga konsumsi rumah tangga dan menahan tekanan inflasi dalam jangka pendek. Dari sisi fiskal, investor perlu mencermati peningkatan beban APBN karena semakin besar subsidi energi, semakin terbatas ruang anggaran pemerintah untuk belanja produktif dan pembangunan.
“Jika harga minyak dan pelemahan rupiah terus berlanjut, risiko pelebaran defisit anggaran juga perlu diperhatikan,” kata Ibrahim.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.080-Rp18.130 per USD.
(NIA DEVIYANA)