Meski demikian, tekanan penurunan pasar sedikit tertahan oleh langkah Presiden Prabowo yang menunjuk Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo, sehingga meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan.
Namun, pasar juga merespons negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. IKK Juli 2026 di level 116,8 ini merupakan yang terendah sejak September 2025 (115).
Sementara apabila dibandingkan dengan posisi awal tahun atau Januari 2026 (127), IKK sudah mengalami penurunan 10,2 poin. Sebagai informasi, survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) ini menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka terhadap masa depan.
Di sisi lain, data penjualan eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia meningkat sebesar 0,7 persen secara bulanan (MtM) pada Juni, mengakhiri tren kontraksi pada dua bulan sebelumnya atau April 2026 (-11,6 persen) dan Mei 2026 (-1,5 persen). Perbaikan penjualan eceran tersebut dipengaruhi oleh siklus musiman yang terjadi setiap Juni.
Perkembangan tersebut sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode HBKN [hari besar keagamaan nasional] dan libur sekolah.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.860-Rp17.970 per USD.
(Dhera Arizona)