sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Melemah ke Rp17.500 per Dolar AS Pagi Ini, Tertekan Ketegangan Selat Hormuz dan Badai PHK

Market news editor Anggie Ariesta
12/05/2026 11:14 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan tren pelemahan tajam hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.500.
Rupiah Melemah ke Rp17.500 per Dolar AS Pagi Ini, Tertekan Ketegangan Selat Hormuz dan Badai PHK. (Foto: iNews Media Group)
Rupiah Melemah ke Rp17.500 per Dolar AS Pagi Ini, Tertekan Ketegangan Selat Hormuz dan Badai PHK. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan tajam hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.500. Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi memprediksi tekanan terhadap mata uang Garuda masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Ibrahim menilai pelemahan signifikan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, baik dari kancah geopolitik global maupun kondisi fundamental ekonomi domestik yang tengah menghadapi tantangan besar.

"Hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Ya, sudah menyentuh di level Rp17.500 yang kemungkinan besar akan kembali menuju di Rp17.550-an. Angka Rp17.550 kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Dari sisi eksternal, ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi motor penguatan indeks dolar AS. Penolakan Amerika Serikat terhadap proposal damai Iran serta serangan-serangan yang masih terjadi di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar global. 

Ibrahim juga menyoroti adanya serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, yang melibatkan dinamika negara-negara eks anggota OPEC.

Kondisi ini secara langsung mendongkrak harga minyak mentah dunia (Brent crude oil) yang berdampak pada lonjakan biaya transportasi global.

Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat cukup tinggi di angka 5,61 persen, Ibrahim menilai hal tersebut tidak cukup kuat untuk menyokong rupiah. Pasalnya, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh konsumsi dan belanja negara, bukan investasi produktif.

Ia juga menyoroti ancaman nyata di sektor riil, yakni gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai masif.

"Sejak Januari sampai| April 2026 sudah 40 ribu buruh baik di padat karya seperti manufaktur, tekstil, dan garmen serta elektronik ini sudah terkena PHK. Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan," kata dia.

Struktur tenaga kerja Indonesia yang didominasi oleh 87,74 juta pekerja sektor informal juga menambah kerentanan ekonomi.

Selain itu, pasar tengah mengantisipasi pengumuman dari MSCI terkait kemungkinan penurunan peringkat saham dan indeks Indonesia dalam tiga hari ke depan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Bank Indonesia (BI) belum memberikan keterangan resmi atau respons terkait jebolnya nilai tukar Rupiah ke level Rp17.500 tersebut.

Belum ada pernyataan mengenai langkah intervensi pasar atau kebijakan moneter terbaru guna meredam volatilitas nilai tukar yang terus merosot sejak awal pekan ini.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement