Kondisi ini secara langsung mendongkrak harga minyak mentah dunia (Brent crude oil) yang berdampak pada lonjakan biaya transportasi global.
Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat cukup tinggi di angka 5,61 persen, Ibrahim menilai hal tersebut tidak cukup kuat untuk menyokong rupiah. Pasalnya, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh konsumsi dan belanja negara, bukan investasi produktif.
Ia juga menyoroti ancaman nyata di sektor riil, yakni gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai masif.
"Sejak Januari sampai| April 2026 sudah 40 ribu buruh baik di padat karya seperti manufaktur, tekstil, dan garmen serta elektronik ini sudah terkena PHK. Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan," kata dia.
Struktur tenaga kerja Indonesia yang didominasi oleh 87,74 juta pekerja sektor informal juga menambah kerentanan ekonomi.